Berita Militer

www.bacaanmiliter.blogspot.com

Berita Militer

www.bacaanmiliter.blogspot.com

Info Militer

www.bacaanmiliter.blogspot.com

Dunia Militer

www.bacaanmiliter.blogspot.com

Cerita Militer

www.bacaanmiliter.blogspot.com

Selasa, 24 Januari 2023

POLIKARPOV PO-2

Polikarpov Po-2

Polikarpov Po-2 merupakan generasi pesawat terbang yang dibuat saat jaman Perang dunia I oleh Perancang pesawat Rusia, Nikolai Polikarpov. Dan berhasil berhasil melakukan first flight pada tanggal 24 Juni 1927. Beberapa bagian dari badan pesawat terbuat dari kayu dan kain sehingga masih sangat sederhana. Dan justru membuat pesawat ini sulit dideteksi oleh radar. Pada awalnya, Po-2 direncanakan menjadi pesawat penyemprot tanaman yang selanjutnya digunakan sebagai pesawat latih. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dimanfaatkan juga sebagai pesawat pengebom ringan. Khususnya ketika terjadi Perang Dunia II. 

Salah satu kelemahan dan akhirnya menjadi keunggulan dari pesawat ini adalah kecepatannya yang relatif rendah. Lambatnya PO-2 justru membuat pesawat-pesawat lain mengalami kesulitan untuk melawannya. Hal itu terjadi karena pesawat ini memiliki kecepatan maksimum yang justru menyamai kecepatan minimum pesawat-pesawat lainnya seperti Me-109 dan FW- 109. Pesawat ini juga memiliki ukuran yang sangat kecil, sehingga bisa lepas landas dan mendarat di mana saja termasuk di tengah-tengah medan pertempuran.

Di awal-awal Perang Dunia Kedua, sebenarnya pesawat ini sudah dianggap ketinggalan zaman, karena hampir tidak menyediakan perlindungan yang cukup bagi penumpangnya. Ketika digunakan di musim dingin, pilot sering menderita radang dingin, sementara pesawat itu sendiri menjadi sangat dingin sehingga menyentuhnya saja bisa merobek kulit telanjang. Selain itu, pesawat yang terbuat dari kayu ini sangat mudah terbakar, sehingga ketika terkena tembakan biasanya seluruh pesawat akan terbakar dan habis di udara sebelum mencapai tanah. 

Berbagai operasi heroic pernah dilakukan oleh penerbang-penerbang dengan menggunakan pesawat biplane ini. Pasukan Uni Soviet yang tergabung dalam 588th Night Bomber Regiment “Night Withces”, dimana seluruh personelnya adalah wanita sering memanfaatkan Polikarpov Po-2 untuk melakjkan misi-misi serangan pada malam hari. Pesawat ini juga digunakan dalam misi-misi pemboman di malam hari oleh Korea Utara dalam Perang Korea. Ketika Perang Dunia II, PO-2 yang dimiliki oleh AU Jerman sering merepotkan pasukan Sekutu pimpinan AS.

Selama kurun waktu 1929 sampai dengan tahun 1953, Polikarpov PO-2 telah diproduksi sebanyak 40.000 unit. Negara-negara yang saat itu menggunakan pesawat ini antara lain Uni Soviet, Korea Utara, Albania, Bulgaria, RRC, Cekoslovakia, Jerman Timur, Hungaria, Mongolia, Polandia, Rumania, dan Yugoslavia. Po-2 mulai dipensiunkan pada akhir tahun 1950-an dan pengguna terakhir pesawat ini adalah Albania yang baru mempensiunkan Po-2 pada tahun 1964.


Spesifikasi Polikarpov PO-2

Crew                                   : 2

Length                                : 8.17 m

Wingspan                            : 11.40 m

Height                                 : 3.10 m

Empty weight                     : 770 kg

Maximum take-off weight  : 1,350 kg

Powerplant                          : 1 x 125 hp Shvetsov M-11D 5-cylinder radial engine

Maximum speed                  : 152 km/h

Range                                   : 630 km

Ceiling                                  : 3,000 m

Armament                             : 1 x 7.62mm machine gun and 6 x 50 kg bombs


Share:

Rabu, 05 Agustus 2020

SS2-V5 A1, Senapan Modern untuk Pertempuran Kota

SS2-V5 A1
Senapan Modern untuk Pertempuran Kota



SS2-V5 A1 Pindad
Sebagaimana diketahui, senapan varian SS2-V5 A1 sebenarnya adalah bagian dari senapan SS2 produksi Pindad yang digunakan oleh Tentara Nasional Republik Indonesia selama bertahun-tahun. Senapan ini menjadi salah satu sejarah perjuangan patriot Indonesia dalam menyelesaikan berbagai tugasnya sebagai bagian dari pengamanan NKRI. Senapan SS2-V5 A1 berbeda dengan varian SS2 lainnya. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari berbagai fitur yang disematkan pada senapan tersebut. 

Salah satu contoh perbedaanya yaitu SS2-V5 A1 memiliki laras yang lebih pendek dibandingkan varian lainnya. Pemangkasan panjang laras ini dilakukan sebagai penyempurnaan agar efektifitas balistik pada jarak yang lebih pendek seperti dalam pertempuran kota lebih bisa diandalkan. Selain itu, pemangkasan panjang laras senapan ini memungkinkan mobilitas yang lebih mudah dalam mengoperasikan senjata ini, yang membuat kemudahan dalam bergerak di dalam ruang yang sempit seperti dalam ruangan atau pun di dalam kendaraan.

Selain perbedaan yang terdapat pada panjang laras, menjadikan SS2-V5 A1 memiliki keunggulan pada kelengkapan yang lain  seperti picatiny rail pada 4 sisi senjata yang dapat digunakan sebagai adaptor untuk memasang berbagai aksesoris senjata seperti teleskop, laser, senter, front grip, dan lain sebagainya. Selain itu, SS2-V5 A1 dilengkapi dengan furnitur berbahan polymer sebagaimana terdapat pada senjata jenis pistol grip serta popor, yang dapat memangkas bobot total senjata. Furnitur polymer ini juga didesain untuk dapat meningkatkan aspek ergonomi bagi penggunanya.

Keunggulan lain yang dimiliki oleh SS2-V5 A1 yaitu pada keunggulan material, presisi dan akurasinya. Aluminium yang menjadi bahan dasar body SS2 menjadikan senjata ini lebih resistan terhadap karat dibandingkan dengan senjata-senjata lainnya yang berbahan besi baja. Dengan kelebihan tersebut, SS2 dapat digunakan untuk operasi yang dilakukan di darat, di laut, dan di udara. Selain itu, komponen-komponen pada senjata SS2 dibuat dengan presisi tinggi karena pembuatannya menggunakan mesin-mesin termoderen dan diawasi secara ketat oleh para ahli sehingga mekanisme kerja lebih sempurna dan dapat  menghasilkan akurasi tembak yang lebih mumpuni.

Spesifikasi SS2-V5 A1
Kaliber                           : 5,56 x 45 mm
Berat  
        Magasen Kosong   :  3,35 kg
        Magasen Penuh     :  3,71
Kapasitas Magasen        : 30 butir
Panjang 
       Popor terlentang     : 745-810 / 540 mm
       Popor terlipat          :  540 mm
Laras 
      Panjang                    : 255 mm
      Rifling                      : 6 grooves, RH 177,8 (7”) twist
Alat Bidik                      : Flip Up mechanical sight
                                         Optical Sight
Kecepatan Tembakan 
        Cylic                                     : 720-760 butir/menit
        Efektif Tembakan otomatis  : 120-200 rpm
        Efektif Tembakan satuan      : 60 rpm
Jarak Tembak efektif                     : 200 m 

Share:

Selasa, 28 Juli 2020

Rusia akan Lengkapi Kapal Perangnya dengan Senjata Nuklir Hipersonik & Drone Bawah Air

Rusia akan Lengkapi Kapal Perangnya dengan Senjata Nuklir Hipersonik & Drone Bawah Air


Kapal Perang Rusia
Kapal Perang Rusia [©2020 REUTERS]
Peningkatan kemampuan persenjataan suatu negara menjadi hal yang wajib dilakukan dalam upaya mempertahankan kedaulatan negara tersebut.  Baik itu negara kecil, berkembang maupun negara maju, semua pasti melakukan upaya tersebut. Tentu saja disesuaikan dengan doktrin pertahanan keamanan serta ketersediaan pendanaan yang dimilikinya. 

Sebagai salah satu negara besar, Rusia memiliki anggaran yang cukup fantastis dalam upaya memenuhi kebutuhan persenjataannya. Untuk beberapa waktu mendatang, pemerintah Rusia sedang berupaya untuk   meningkatkan kemampuan pertahanan mereka di bidang kelautan.  Ketika menghadiri parade AL yang menandai peringatan Hari AL di Rusia pada Minggu di St Petersburg, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan peningkatan persenjataan militer negaranya

Dalam waktu dekat ini,  Angkatan Laut Rusia (Russian Navy) akan diperkuat dengan senjata penyerang nuklir supersonik, drone nuklir bawah laut Poseidon, termasuk 40 unit kapal baru.

"Penyebarluasan teknologi digital canggih yang tidak ada bandingannya di dunia, termasuk sistem serangan hipersonik dan drone bawah air, akan memberi armada keunggulan khusus dan peningkatan kemampuan tempur," jelasnya, dikutip dari Press TV, Senin (27/7).

Drone Nuklir Bawah Laut Poseidon
Drone nuklir bawah laut Poseidon merupakan alutsista modern generasi baru dari senjata nuklir Rusia yang diklaim memiliki daya jelajah yang tidak terbatas.D rone yang memiliki bentuk seperti torpedo raksasa  ini membawa hulu ledak nuklir seberat hingga dua megaton.  Dilengkapi dengan  reaktor nuklir kecil, Poseidon memiliki jangkauan 10.000 kilometer untuk bergerak tanpa berhenti mengisi bahan bakar. 

Rudal Jelajah Hipersonik Tsirkon (Zircon)
Rudal jelajah hipersonik Tsirkon (Zircon), merupakan senjata mematikan yang bisa melaju dengan kecepatan hipersonik, 6.000 mil perjam atau sekitar 9.656 kilometer perjam. Pada awalnya, rudal ini dirancang untuk menggempur kapal perang, akan tetapi dalam pengembangannya juga memiliki kemampuan menyerang target di darat. Rudal yang menjadi ancaman berat bagi Amerika Serikat ini  merupakan pengembangan lebih lanjut dari HELA (Hypersonic Experimental Flying Vehicle) yang dikembangkan oleh NPO Mashinostroyeniya. Saat inim Zircon dapat digunakan untuk melengkapi kapal-kapal permukaan

Sementara itu, di dalam pernyataan terpisah, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa pemerintah Rusia saat ini sedang melakukan pengujian terhadap Kapal Selam Belgorod. Kapal selam pertama yang nantinya ditugaskan untuk membawa drone Poseidon sedang diuji coba secara intensif dan sudah memasuki tahap akhir pengujian. Diprediksikan akhir tahun 2020 kapal ini sudah dapat melenggang dengan bebas di lautan lepas untuk menjaga kedaulatan Rusia. 




Share:

Rabu, 17 Juni 2020

Bentrok tentara India VS China, 63 Jiwa Tentara Melayang

Bentrok tentara India VS China, 63 Jiwa Tentara Melayang



Senjata bentrok India VS China
Senjata yang diduga digunakan dalam bentrokan India-China
Kembali dunia militer dihebohkan dengan adanya peristiwa bentrokan berdarah antara tentara India dan China di perbatasan kedua negara yang berada di Pegunungan Himalaya. Peristiwa yang terjadi pada Senin (15/06), ini melibatkan pasukan perbatasan dari kedua negara yang memang sudah bersitegang dalam waktu yang lama. Lokasi kejadian tersebut berada di perbatasan de facto kedua negara—yang dinamakan Garis Kendali Aktual atau LAC—di Lembah Galwan di Ladakh yang juga masuk dalam  wilayah sengketa Kashmir

Peristiwa berdarah yang memakan korban jiwa dari kedua negara ini adalah yang pertama selama lebih dari 40 tahun perseteruan kedua raksasa Asia tersebut. Sebenarnya gesekan kedua kekuatan negara tersebut bukan hanya berlangsung spontan. Sejak April, kedua negara dilaporkan sudah memobilisasi kekuatan militer berupa tank, artileri, peluncur roket, dan tentara di sekeliling lembah. Pada awal Mei, ketegangan antara kedua negara meningkat setelah Tentara China mendirikan tenda, menggali parit perlindungan, dan memindahkan sejumlah peralatan militer besar beberapa kilometer dari teritori yang diklaim India sebagai wilayahnya. Beberapa hari sebelum terjadinya bentrokan berdarah, tentara China terlihat membawa serangkaian alat-alat, membuat jalan setapak ke lereng gunung Himalaya, dan mungkin termasuk membendung sungai. Hal inilah yang diduga menjadi sumber terjadinya pertempuran tersebut. 

Uniknya, peperangan yang memakan korban jiwa 20 tentara dari pihak India dan 43 tentara dari pihak China ini tidak menggunakan senjata api. Kedua belah pihak saling menyerang dengan batangan besi yang dipenuhi denngan paku tajam, batu, katu dan benda-benda lain yang berada disekitar tempat tersebut.  perwira komandan mengalami cedera serius dan jatuh, dan ketika terjadi, lebih banyak tentara Sejumlah tentara yang bertarung diduga telah jatuh ke sungai yang mengalir deras di bawahnya

Pasca kejadian tersebut, kedua negara saling menyalahkan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, mengatakan India telah masuk ke perbatasan China dan memprovokasi dan menyerang tentara China, mengakibatkan konfrontasi fisik yang serius antara tentara perbatasan kedua negara. Akan tetapi, pihak India mengatakan tentara China mencoba untuk mendirikan sebuah bangunan di wilayah perbatasan India yang diakui secara de facto oleh Garis Kendali Aktual (LAC)

Share:

Senin, 15 Juni 2020

Jaga Eksistensi di Indo-Pasifik, AS kirim 3 Kapal Induknya

Jaga Eksistensi di Indo-Pasifik, 
AS kirim 3 Kapal Induknya



Kapal Induk USS Ronald Reagan
Tiga kapal induk angkatan Laut AS bertolak menuju perairan Indo-Pasifik untuk melakukan patroli. USS Theodore Roosevelt, USS Nimitz, dan USS Ronald Reagan berangkat pada hari kamis (11/6) di tengah meningkatnya tensi di lokasi perebutan pengaruh antara tentara AS dan Tiongkok. 

Mobilisasi 3 kapal induk yang membawa ratusan unit jet tempur F-18 tersebut diduga untuk melakukan provokasi terhadap tentara China terkait permasalahan corona, Hongkong dan manuver angkatan perang negara tersebut di Laut China Selatan. Tindakan ini juga dilakukan untuk menegaskan bahwa Tentara AS tidak terpengaruh oleh adanya wabah Corona dan demonstrasi masal yang terjadi di negara Paman Sam tersebut. 

"Ada beberapa indikasi dalam tulisan-tulisan China bahwa Amerika Serikat dihantam keras oleh Covid, sehingga kesiapan militer rendah, jadi mungkin ada upaya Amerika Serikat untuk memberi isyarat kepada Tiongkok agar tidak salah perhitungan," kata Direktur Proyek Tenaga China di Pusat Studi Strategis dan Internasional Bonnie Glaser sebagaimana dilangsir dari CNN.

Pemerintah Tiongkok sendiri, memberikan tanggapan bahwa upaya yang dilakukan oleh AS tersebut merupakan salah satu bentuk provokasi dan menjadi sumber ketidakstabilan di wilayah tersebut. Dikutip dari Globaltimes, peneliti senior di Lembaga Penelitian Studi Militer Angkatan Laut PLA Zhang Junshe mengatakan beberapa ahli sedang menganalisis alasan di balik pengerahan tiga kapal induk itu. Namun upaya itu dinilai tidak lebih dari latihan AS yang bertujuan untuk menciptakan ketegangan dengan China.

Berbicara kepada The Associated Press, Laksamana Muda Stephen Koehler, direktur operasi di Komando Indo-Pasifik AS  mengatakan bahwa China secara perlahan dan secara metodis telah membangun pos-pos militer di Laut China Selatan sekaligus menempatkan sistem rudal dan peperangan elektronik di sana. Dan meningkatnya aktivitas tentara AS di tempat tersebut juga merupakan bentuk respon dari provokasi-provokasi tentara China beberapa waktu terakhir ini.  

Share:

Rabu, 03 Juni 2020

Lahti-Saloranta M/26-Finlandia


Lahti-Saloranta M/26-Finlandia



Lahti-Saloranta M/26Finlandia, merupakan salah satu negara yang memproduksi senapan mesin ringan yang bernama Lahti-Saloranta M/26 (disingkat LS/26 ). Hal itu bermula ketika Angkatan Darat Finlandia menggelar kompetisi untuk merancang senapan mesin ringan baru, sekitar tahun 1925. Dan akhirnya, pilihan jatuh pada desain Aimo Lahti yang sebenarnya sudah dibuat dan diserahlan ke pihak militer pada tahun 1924. Aimo Lahti kemudian diberi tugas untuk melanjutkan pengembangan senapan mesin ringan nya bersama Letnan Arvo Saloranta.


Prototipe pertama hasil karya mereka berdua selesai pada Juli tahun 1925, yang selanjutnya diuji bersama dengan beberapa senapan mesin ringan buatan luar seperti BAR buatan Amerika , Furrer Lmg 25 buatan Swiss , Vickers Berthier buatan Inggris, dan Hotchkiss buatan Prancis. Dari hasil ujicoba tersebut, akhirya dipilihlah desain milik Lahti-Saloranta dan diadopsi pada tahun 1926 sebagai “Pikakivääri m/26” (Senapan Mesin Ringan m/26).


Dan akhirnya, senapan mesin tersebut masuk dalam ranah produksi masal. Produksi pertama dilakukan pada tahun 1930 di pabrik senjata milik pemerintah "Valtion Kivääritehdas" atau VKT. Karena minimnya pesanan, akhirnya senjata tersebut hanya diproduksi untuk pasar domestik. Dan akhirnya, Tiongkok tertarik untuk mempergunakan senapan tersebut. Pada Tahun 1930, negara yang berada di semenanjung Asia tersebut memesan 30.000 pucuk senapan dalam kaliber 8mm Mauser. Akan tetapi kerena tekanan diplomasi dari Jepang, Finlandia hanya berhasil mengirimkan 1.200 pucuk senjata.

LS-26LS-26 sendiri, sebenarnya merupakan senapan mesin ringan yang dilengkapi dengan pendingin udara, sistem open bolt yang menggunakan kaliber 7.62x53R. Senapan ini menjadi senapan mesin ringan yang berat dan rumit tetapi akurat dan lumayan dapat diandalkan. LS-26 menggunakan magasin box 20 peluru dan magasin drum 75 peluru yang sebenarnya jarang digunakan karena terkesan aneh dan susah diisi ulang (seperti magasin DP tapi letaknya di bawah).

Ketika terjadi peristiwa invasi Soviet ke Finlandia pada tahun 1939, senapan ini menjadi senjata andalan. Pada saat Continuation War pada tahun 1941, Finlandia menyita banyak persenjataan Soviet salah satunya adalah DP-27. Pasukan Finlandia lebih memilih DP-27 karena simple dan dapat diandalkan di segala medan. Akhirnya produksi LS-26 dihentikan pada tahun 1942 dan diganti untuk memproduksi suku cadang DP-27. Total LS-26 yang digunakan oleh Finlandia sebanyak 3.400 pucuk, lebih kecil dibanding jumlah DP-27 yang disita sebanyak 9.000 pucuk.

Share:

Selasa, 12 Mei 2020

Kisah TNI AU Menyusup dan Membom Australia dengan makanan Kaleng

Kisah TNI AU Menyusup dan Membom Australia dengan makanan Kaleng


TU-16 menyusup ke Australia
Konfrontasi yang terjadi antara Indonesia dengan Malaysia terjadi ketika negara-negara bekas jajahan Inggris di Asia tenggara ingin membentuk Federasi Malaysia yang beranggotakan Malaya, Singapura, Serawak, Brunei, dan Sabah (Kalimantan Utara). Kondisi perpolitikan negara kita membuat Presiden Soekarno tidak setuju dengan pembentukan federasi tersebut sehingga menjadikan ketegangan antara  Indonesia dengan Federasi Malaysia.  Puncak perseteruan terjadi ketika Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia yang berbuntuk dengan maraknya demonstrasi di masing-masing kedutaan besar.  Kondisi inilah yang akhirnya mendorong keluarnya seruan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang memulai adanya konfrontasi senjata.

Sebagai anggota persemakmuran Inggris, konfrontasi bersenjata yang terjadi di Malaysia (termasuk Singapura) dan Indonesia menjadikan anggota persemakmuran lain terlibat. Adalah Inggris dan Australia yang dengan permohonan Malaysia juga turut mengirimkan kontingen bersenjatanya. Demi  merespon kondisi tersebut, pemerintah Indonesia akhirnya juga melakukan perang urat syaraf dengan negeri Kanguru, Australia. Salah satu misi yang dilakukan yaitu dengan melakukan penyusupan melalui pesawat udara. 

Skenario penyusupan ke Australia dirancang dengan mengirimkan pesawat yang nantinya akan menjatuhkan barang-barang buatan indonesia sebagai upaya menjatuhkan mental negara tersebut. Akhirnya pilihan jatuh ke pesawat pembom AURI yang baru saja di beli dari Uni Soviet yaitu TU-16 Bagder A. Pesawat bomber ini di pilih karena memiliki jangkauan penerbangan yang cukup jauh yaitu 7.200 km dengan  kecepatan  maksimal 1.050 km/jam dan mampu membawa barang bawaan cukup banyak, yaitu hingga 9 ton. Barang-barang yang dibawa untuk “dikirim” ke negara tetanggak tersebut antara lain peralatan militer berupa perasut, alat komunikasi dan makanan kaleng.

Menjelang hari H, terjadi kesibukan yang cukup menonjol di home base TNI AU Lapangan Iswahjudi Madiun. Hal ini terjadi karena penyusuupan dengan pesawat ternyata tidak hanya dilakkukan ke Australia saja, tapi juga ke negara jiran, Malaysia. Sehingga waktu itu disiapkan 3 pesawat TU-16, 2 buah untuk menyusup ke Malaysia dan sisanya ke Australia. Untuk menjalankan misi  penyusupan ke Australia,  terpilih Komodor Udara Suwondo menjadi pilot TU-16 sekaligus sebagai pimpinan misi. 

Sebelum berangkat ke Australia pada pukul 01.00 WIB, Suwondo mengundang seluruh anggota timnya sejak pukul 23.00. Sjahroemsjah, salah seorang gunner Tu-16 mengatakan bahwa sebelumnya tidak ada yang tahu dengan tujuan dan sasaran misi tersebut. Baru ketika briefing, semua crew mengetahui bahwa tujuan misi adalah ke Australia, salah satu negara yang memiliki sistem pertahanan udara cukup bagus di kawasan Asia-Pasifik. 

Setelah briefing selesai, tepat ketika jarum jam menunjung ke angka 01.00 WIB, TU-16 Badger terbang meninggalkan markas mereka di Madiun menuju ke Australia.  Untuk menghindari deteksi radar, pesawat itu terbang rendah. Tak terbayangkan bagaimana tegangnya perasaan para crew pesawat, apalagi ketika pesawat mereka mulai memasuki daratan Australia. Sebagaimana petunjuk yang diberikan, sasaran yang mereka tuju adalah daerah Alice Springs, yang lokasinya tepat berada di tengah benua Australia.

Bukan hal yang mudah memang untuk menjalankan misi itu, karena mereka sudah mengetahui jika titik yang menjadi jantung Benua Australia tersebut terdapat Over The Horizon Radar System, sebuah sistem radar yang digunakan untuk memantau seluruh kawasan Asia Pasifik.  Selain itu, keberadaan roket-roket anti pesawat udara dan juga pesawat pemburu F-86 Sabre menjadi ancaman tersendiri bagi keberhasilan misi. 

Akhirnya sesuai yang direncanakan, setelah pesawat sampai di droping zone, barang-barang dengan label Made In Indonesia dijatuhkan dari perut pesawat pengebom tersebut. Tak terbayangkan bagaimana ketakutannya penduduk negara tersebut ketika keesokan harinya mereka menemukan barang-barang dari Indonesia yang dijatuhkan dari pesawat udara. 

Satu tugas sudah terselesaikan. Tinggal menjalankan tugas berikutnya, yaitu kembali ke home base dengan selamat. Sebagaimana ketika berangkat tadi, perjalanan kembali ke indonesia juga dilakukan dengan penerbangan rendah dengan mengambil rute yang sedikit berbeda yaitu dengan mengambil jalur memutar. Dan untungnya, untuk perjalanan kembali ini juga tidak mendapatkan tantangan berarti. Pesawat pencegat F-86 Sabre dan rudal anti pesawat Bloodhound Australia yang ditakuti juga tidak menampakkan batang hidungnya. Akhirnya misi dinyatakan sukses seiring mendaratnya roda pesawat di lapangan Udara Iswahjoedi Madiun pada pukul 08.00 WIB. Butuh waktu 8 jam untuk menyelesaikan misi yang heroik dan mendebarkan tersebut.

Dan keesokan harinya, sebagaimana yang sudah diprediksikan sebelumnya, terjadi kehebohan yang cukup besar di Australia. Pemerintah negara tersebut kaget setengah mati saat menemukan barang-barang Made in Indonesia yang dikirim dari udara. Mereka tidak menyangka jika pengebom raksasa milik Indonesia bisa bebas keluar dan masuk di wilayah teritorial mereka dengan mudah tanpa terdeteksi radar. Meskipun dilanda malu, mereka juga bersyukur karena Indonesia hanya mengirimkan makanan kaleng, bukan  bom seberat 9.000 kilogram yang bisa memporak-porandakan negara mereka.

Share:

Support