Selasa, 12 Mei 2020

Kisah TNI AU Menyusup dan Membom Australia dengan makanan Kaleng

Kisah TNI AU Menyusup dan Membom Australia dengan makanan Kaleng


TU-16 menyusup ke Australia
Konfrontasi yang terjadi antara Indonesia dengan Malaysia terjadi ketika negara-negara bekas jajahan Inggris di Asia tenggara ingin membentuk Federasi Malaysia yang beranggotakan Malaya, Singapura, Serawak, Brunei, dan Sabah (Kalimantan Utara). Kondisi perpolitikan negara kita membuat Presiden Soekarno tidak setuju dengan pembentukan federasi tersebut sehingga menjadikan ketegangan antara  Indonesia dengan Federasi Malaysia.  Puncak perseteruan terjadi ketika Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia yang berbuntuk dengan maraknya demonstrasi di masing-masing kedutaan besar.  Kondisi inilah yang akhirnya mendorong keluarnya seruan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang memulai adanya konfrontasi senjata.

Sebagai anggota persemakmuran Inggris, konfrontasi bersenjata yang terjadi di Malaysia (termasuk Singapura) dan Indonesia menjadikan anggota persemakmuran lain terlibat. Adalah Inggris dan Australia yang dengan permohonan Malaysia juga turut mengirimkan kontingen bersenjatanya. Demi  merespon kondisi tersebut, pemerintah Indonesia akhirnya juga melakukan perang urat syaraf dengan negeri Kanguru, Australia. Salah satu misi yang dilakukan yaitu dengan melakukan penyusupan melalui pesawat udara. 

Skenario penyusupan ke Australia dirancang dengan mengirimkan pesawat yang nantinya akan menjatuhkan barang-barang buatan indonesia sebagai upaya menjatuhkan mental negara tersebut. Akhirnya pilihan jatuh ke pesawat pembom AURI yang baru saja di beli dari Uni Soviet yaitu TU-16 Bagder A. Pesawat bomber ini di pilih karena memiliki jangkauan penerbangan yang cukup jauh yaitu 7.200 km dengan  kecepatan  maksimal 1.050 km/jam dan mampu membawa barang bawaan cukup banyak, yaitu hingga 9 ton. Barang-barang yang dibawa untuk “dikirim” ke negara tetanggak tersebut antara lain peralatan militer berupa perasut, alat komunikasi dan makanan kaleng.

Menjelang hari H, terjadi kesibukan yang cukup menonjol di home base TNI AU Lapangan Iswahjudi Madiun. Hal ini terjadi karena penyusuupan dengan pesawat ternyata tidak hanya dilakkukan ke Australia saja, tapi juga ke negara jiran, Malaysia. Sehingga waktu itu disiapkan 3 pesawat TU-16, 2 buah untuk menyusup ke Malaysia dan sisanya ke Australia. Untuk menjalankan misi  penyusupan ke Australia,  terpilih Komodor Udara Suwondo menjadi pilot TU-16 sekaligus sebagai pimpinan misi. 

Sebelum berangkat ke Australia pada pukul 01.00 WIB, Suwondo mengundang seluruh anggota timnya sejak pukul 23.00. Sjahroemsjah, salah seorang gunner Tu-16 mengatakan bahwa sebelumnya tidak ada yang tahu dengan tujuan dan sasaran misi tersebut. Baru ketika briefing, semua crew mengetahui bahwa tujuan misi adalah ke Australia, salah satu negara yang memiliki sistem pertahanan udara cukup bagus di kawasan Asia-Pasifik. 

Setelah briefing selesai, tepat ketika jarum jam menunjung ke angka 01.00 WIB, TU-16 Badger terbang meninggalkan markas mereka di Madiun menuju ke Australia.  Untuk menghindari deteksi radar, pesawat itu terbang rendah. Tak terbayangkan bagaimana tegangnya perasaan para crew pesawat, apalagi ketika pesawat mereka mulai memasuki daratan Australia. Sebagaimana petunjuk yang diberikan, sasaran yang mereka tuju adalah daerah Alice Springs, yang lokasinya tepat berada di tengah benua Australia.

Bukan hal yang mudah memang untuk menjalankan misi itu, karena mereka sudah mengetahui jika titik yang menjadi jantung Benua Australia tersebut terdapat Over The Horizon Radar System, sebuah sistem radar yang digunakan untuk memantau seluruh kawasan Asia Pasifik.  Selain itu, keberadaan roket-roket anti pesawat udara dan juga pesawat pemburu F-86 Sabre menjadi ancaman tersendiri bagi keberhasilan misi. 

Akhirnya sesuai yang direncanakan, setelah pesawat sampai di droping zone, barang-barang dengan label Made In Indonesia dijatuhkan dari perut pesawat pengebom tersebut. Tak terbayangkan bagaimana ketakutannya penduduk negara tersebut ketika keesokan harinya mereka menemukan barang-barang dari Indonesia yang dijatuhkan dari pesawat udara. 

Satu tugas sudah terselesaikan. Tinggal menjalankan tugas berikutnya, yaitu kembali ke home base dengan selamat. Sebagaimana ketika berangkat tadi, perjalanan kembali ke indonesia juga dilakukan dengan penerbangan rendah dengan mengambil rute yang sedikit berbeda yaitu dengan mengambil jalur memutar. Dan untungnya, untuk perjalanan kembali ini juga tidak mendapatkan tantangan berarti. Pesawat pencegat F-86 Sabre dan rudal anti pesawat Bloodhound Australia yang ditakuti juga tidak menampakkan batang hidungnya. Akhirnya misi dinyatakan sukses seiring mendaratnya roda pesawat di lapangan Udara Iswahjoedi Madiun pada pukul 08.00 WIB. Butuh waktu 8 jam untuk menyelesaikan misi yang heroik dan mendebarkan tersebut.

Dan keesokan harinya, sebagaimana yang sudah diprediksikan sebelumnya, terjadi kehebohan yang cukup besar di Australia. Pemerintah negara tersebut kaget setengah mati saat menemukan barang-barang Made in Indonesia yang dikirim dari udara. Mereka tidak menyangka jika pengebom raksasa milik Indonesia bisa bebas keluar dan masuk di wilayah teritorial mereka dengan mudah tanpa terdeteksi radar. Meskipun dilanda malu, mereka juga bersyukur karena Indonesia hanya mengirimkan makanan kaleng, bukan  bom seberat 9.000 kilogram yang bisa memporak-porandakan negara mereka.

Share:

1 komentar:

Support