Berita Militer

www.bacaanmiliter.blogspot.com

Berita Militer

www.bacaanmiliter.blogspot.com

Info Militer

www.bacaanmiliter.blogspot.com

Dunia Militer

www.bacaanmiliter.blogspot.com

Cerita Militer

www.bacaanmiliter.blogspot.com

Senin, 24 Juni 2019

Moeffreni Moe'min (seri 2)

Moeffreni Moe'min (seri 2)
Komandan yang Tak Terlupakan

Seiring berjaannya waktu, BKR Jakarta selanjutanya diubah menjadi TKR Resimen V Jakarta.  Moeffreni Moe’min selanjutnya diangkat menjadi  komandan Resimen V dengan pangkat Letnan Kolonel.  Sejak kedatangan tentara sekutu, kondisi di Jakarta sering terjadi bentrok antara rakyat dan/atau BKR dengan tentara NICA. Oleh krena itu, Berdasarkan kesepakatan pemerintah republik dengan sekutu, mulai 19 November 1945 Jakarta harus dijadikan kota diplomasi dengan garis demarkasi di Kali Cakung. Kondisi tersebut membuat Moe’min bersama pasukannya harus mengosongkan markas lamanya untuk berpindah markas ke daerah Cikampek. 

Disinilah kepiaiannya terbukti setelah berhasil membangun koordinasi yang kompak antara tentara dengan lasykar di front Jakarta Timur. Adapun kelompok pemuda dan laskar yang berada dalam koordinasi pasukan Moe’min antara lain: Laskar Matmuin Hasibuan di Marunda & Tanjung Priok, di Klender di bawah Haji Darip, di Babelan di bawah K.H. Noer Alie, Laskar Acoma di Cikarang & Tambun, banyak lagi.

Demi mengacaukan kedudukan Nica/ Belanda, Moeffreni beserta anak buahnya yang didukung oleh rakyat melakukan penghadangan atau penyerangan pos2 tentara NICA di Jakarta. Tak pelak kondisi tersebut menjadikan Jakarta sebagai sebuah front pertempuran yang memakan banyak korban. Salah satu pertempuran yang terjadi adalah peristiwa pada  tanggal 17 Oktober 1945 saat serdadu NICA membakar ratusan rumah di desa Cibening dan Cakun. 

Pada saat itu, Moeffreni yang masih berusia 24 tahun dikenal sebagai seorang perwira yang tegas, ak mengenal sikap kompromi dan tawar menawar. Beberapa tokoh yang ada di pemerintah pusat bahkan sempat memberinya julukan sebagai seorang yang memiliki kepala batu. Salah satu peristiwa yang banyak diingat oleh masyarakat pada saat itu ketika tentara sekutu yang dibonceng Nica melakukan pengawalan kereta api berisi Amunisi dan logistik untuk dibawa ke Bandung.  

Begitu berada di daerah kekuasaan Moeffreni tepatnya di daerah Dawuan, kereta api tersebut dicegat dan diserang yang mengakibatkan banyak pasukan sekutu/ Nica menjadi korban, bahkan beberapa tentara tersebut ada yang ditawan. Selain itu barang-barang yang berada dalam jereta juga dirampas para pejuang. 

Mendengar peristiwa itu, pimpinan tentara Sekutu yang berada di Jakarta marah-marah dan menghubungi para pejabat Indonesia dan memberi ultimatum untuk membebaskan tawanan dan mengembalikan barang rampasan perang.  Bahkan pada saat itu,  Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin sampai menelepon dan meminta Moeffreni agar mengembalikan  hasil rampasan dalam pertempuran di Dawuan kepada Inggris.

“Maaf Pak, saya tidak dapat melaksanakan perintah itu,” ujar Moeffreni

“Tapi kalau tidak dilakukan, Cikampek akan dibom oleh mereka,” tukas Amir.

“Saya sudah memperhitungkannya, Pak. Di sini tiap hari telah dibom oleh mereka. bahkan hingga Tambun,” ungkap Moeffreni.

Amir Sjarifoeddin pun tak bisa berkata-kata apa lagi 

(buku Jakarta-Karawang-Bekasi dalam Gejolak Revolusi karya Dien Majid dan Darmiati)

Letkol Moeffreni kemudian dipercaya mengomandani Resimen XII Cirebon, menggantikan Kolonel Soesalit Djojohadiningrat (putra RA Kartini). Salah satu tugas beratnya adalah mengamankan berlangsung perundingan antara pihak Indonesia dengan Belanda di Linggajati dari 11-15 November 1946. Pada tanggal 21 Juni 1946, Moeffreni melepas masa lajangnya di usia 26 tahun di Cirebon  dengan menikahi Elly Koesmaningsih. Elly sendiri adalah seorang putri Wedana Cirebon yang bernama Moehammad Sidik

Pada bulan April 1947, Kolonel A.H. Nasution  atasannya menugaskan Moeffreni untuk menjabat sebagai Direktur Latihan Pendidikan Perwira Divisi Siliwangi di Ngamplang Garut. Namun, pada saat militer Belanda menyerang Garut pada Juli 1947, Moeffreni tertangkap dan menjadi tawanan perang di pulau Nusakambangan.

Setelah tiga tahun menjadi tahanan perang Belanda, akhirnya Moeffreni dibebaskan di awal tahun 1950, dalam rangka implementasi pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) 27 Desember 1949. Setelah pembebasannya, dia langsung ditugaskan sebagai kepala staf Resimen Bogor. Selanjutnya beliau di angkat sebagai “plt” Gubernur Militer di Bandung dan kemudian di tarik ke Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) sebagai Asisten Subsistensi/ Wakil Asisten V Kepala Staf Teritorial TNI AD.

MoeffreniTahun 1957, dia kemudian mengajukan pengunduran diri dari dunia militer dengan alasan kesehatan. Pasca pengunduran dirinya, selanjutnya aktif dalam dunia politik dan pernah menduduki jabatan sebagai wakil rakyat. Tercatat dia pernah terpilih menjadi anggota DPRD DKI Jakarta dan berlanjut hingga akhirnya menjadi anggota MPR RI  dari Fraksi ABRI. 

Moeffreni Moe’min
  meninggal di Rumah Sakit Pertamina Jakarta pada 27 Juni 1996 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta sesuai dengan wasiat terakhirnya. Demi mengingat jasa-jasanya saat ini tokoh masyarakat dan pemerintah daerah DKI Jakarta sedang mengajukan namanya untuk dijadikan sebagai Pahlawan Nasional. Sebuah gelar yang layak untuk disematkan terhadap seorang pejuang yang benar-benar berpengaruh dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI.
Share:

Senin, 17 Juni 2019

Moeffreni Moe'min

Moeffreni Moe'min
Pejuang Pemberani dari Betawi


Moeffreni Moe'min
Letnan Kolonel Moeffreni Moe'min(Kiri)
Moeffreni Moe’min  lahir tanggal 12 Februari  1921 di Rangkasbitung merupakan anak dari Moehammad Moe’min, seorang mantan wedana asli Betawi kelahiran Kwitang. Sejak remaja Moeffreni aktif dalam organisasi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), yang merupakan cikal bakal gerakan Pramuka di Indonesia, sebagai hoofd Redactur majalah pandu Jakarta. Dari pekerjaannya itu Moeffreni mengetahui pembentukan Seinen Dojo (Barisan Pemuda) di zaman Jepang. Ikutlah Moeffreni pelatihan khusus untuk pemuda terpelajar itu di Tangerang.

 Moeffreni merupakan angkatan pertama di Seinen Dojo (Balai Pendidikan Pemuda) Tangerang pada 1943. Bersama dengan para pemuda yang kelak menjadi  para tokoh militer Indonesia seperti Supriyadi, Daan Mogot, Jono Suweno dan Kemal Idris dia dilatih selama enam bulan. 

Selanjutnya, pemuda yang dikenal tegas dan pemberani ini melanjutkan pendidikan Perwira PETA (Pembela Tanah Air) di Boei Gyugun Kanbu Rensentai Bogor. Lepas Boei Gyugun Kanbu Resentai, dia kemudian didapuk melatih calon instruktur PETA. Di sinilah dia berkenalan dengan pemuda Soeharto yang merupakan salah satu peserta pendidikan tersebut. Selesai engikuti pelatihan tersebut, selanjutnya dia diberi tugas untuk  Moeffreni mengikuti pendidikan Renseitai di Cimahi dan Redentai (intelejen) di Magelang. Dalam pelatihan intelijen di Magelang itu Moeffreni mengikat persahabatan dengan Sarwo Edhie, Zulkifli Lubis, dan Ahmad Yani

Sebagai pemuda Betawi ssli, Moeffreni pun banyak memiliki kenalan dan  jaringan dengan para jagoan dan jawara Jakarta seperti Haji Darip, Panji dan tokoh-tokoh terkemuka lainnya. Kondisi tersebut yang kemudian memudahkan langkahnya ketika membentuk BKR (Badan Keamanan Rakyat) Jakarta bersama kawan-kawannya yang tergabung daalam Pemuda Menteng 31  dan Prapatan 10. BKR Jakarta tersebut memiliki markas di Jalan Cilacap dan menjadikan kawasan di sekitarnya seperti sekitar Tanah Abang, Dukuh Sawah sekarang Jalan M.H. Thamrin, Karet Kubur dan Salemba sebagai daerah teritorialnya. 

Sebagai Panglima BKR Jakarta yang pernah mengenyam pendidikan perwira, Moeffreni membagi-bagi kesatuan-kesatuannya berdasarkan sektor, seperti Jakarta Pusat (dipimpin Sadikin dan Soedarsono, Jakarta Utara (Martadinata dan M Hasibuan), Jakarta Selatan, Jakarta Timur (Sambas Atmadinata dan Sanusi Wirasuminta) dan Jakarta Barat. Selain itu, dibentuk pula satuan-satuan kecil di tiap kewedanan.

Letnan Kolonel Moeffreni Moe'min
Moeffreni Moe'min (tanda merah) ketika mengawal Bung Karno
Ketika berlangsung rapat besar di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) yang sekarang berubah menjadi Lapangan Monas,  Moefreni yang saat itu menjadi Ketua Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jakarta  diberi tugas untuk mengawal Soekarno bersama ajudan Presiden, perwira Polisi Istimewa Mangil Martowidjojo. Moeffreni mengawal Bung Karno sejak dari saat dijemput di mobil, berjalan ke podium untuk pidato singkat, sampai kembali lagi ke mobil.  Untuk menjaga keselamatan Presiden RI yang pertama tersebut, dia menaruh dua buah dinamit di jas dan menyelipkan sebuah pistol di pinggangnya. Dia sendiri yang turun tangan untuk pasang badan demi menjaga Bung Karno, Bung Hatta, serta anggota kabinet yang dijemput oleh Soebijanto Djojohadikoesoemo (selama rapat Ikada)
Dan berdasarkan penelusuran terhadap beberapa sejarah, ternyata peranan Moeffreni Moe’min cukup vital dalam rapat yang dihadiri 250.000 orang tersebut karena berposisi sebagai ketua panitia. Berbagai upaya dia lakukan demi kelangsungan dan keberhasilan rapat tersebut. Bahkan sebelum rapat di mulai, dia harus  mendatangi para  perwira tinggi Jepang di kantor Guiseikanbu untuk agar jangan terjadi pertumpahan darah. 

Dan setelah adanya rapat akbar yang terbilang sukses tersebut, karir  Moeffreni Moe’min  di bidang militer mulai diperhitungkan.

Bersambung ke bagian 2

Share:

Selasa, 11 Juni 2019

SD.KF.Z231 Panser Legendaris Jerman

 SD.KF.Z231 
Panser Legendaris Jerman
 
 
 
Panser SD.KF.Z231
Panser yang dibuat dengan menggunakan sasis truk taktis 6-roda sebagai dasarnya ini dobuat oleh Wa Prüf 6 - Panzer- und Motorisierung sabteilung (Kantor Desain Otomotif Waffenamt). Kantor desain ini sendiri mendapat pesanan dari  Reichswehr (Angkatan Bersenjata Jerman sebelum Wehrmacht) untuk mulai membangun kendaraan pengintai lapis baja .

Setelah melalui berbagai riset dan uji coba, akhirnya jadilah "keluarga" kendaraan pengintai berat Sd.Kfz.231, Sd.Kfz.232, dan Sd.Kfz.263. Kendaraan produksi pertengahan - seperti halnya Sd.Kfz.231 di atas – ini dilengkapi dengan senapan mesin yang dipasang di sebelah kanan kanon utama. 

Kendaraan ini juga mempunyai rol penggulung kecil di bagian depan bawah sebagai pencegah manakala dia tersangkut tak bisa bergerak ketika masuk ke parit - sama fungsinya seperti penggulung di M3A1 milik Amerika Serikat. Di bagian tengah bawah juga dipasang alat rol yang sama untuk mencegah tersangkut di puncak tanjakan saat menempuh jalur off-road.

Rangka berbentuk bendera di bagian spatbor kendaraan yang berada di depan berguna sebagai dudukan panji warna. Panji warna semacam ini biasanya dipakai saat berlangsungnya latihan perang-perangan.Sd.Kfz.231 didesain untuk mampu menangkal peluru dibawah kaliber 8mm sampai jarak 30m, sementara mesin di bagian samping dan belakangnya dilindungi lapisan baja sampai setebal 10mm (bagian depan, samping dan belakang lainnya berketebalan 8mm, sementara atap dan dek belakang 5mm). 

Panser SD.KF.Z231 JermanDisini kita melihat kendaraan Schwerer Panzerspähwagen produksi akhir, dimana lampu penanda beloknya telah dipindahkan ke bagian fender dan rel pelindungnya ditiadakan. Sd.Kfz.231 di atas dilengkapi dengan penangkal asap yang mulai ditambahkan dari sejak awal tahun 1942. Seri Sd.Kfz.231 mempunyai awak 4 orang, kecepatan sampai 85km/jam, serta setir unik di depan dan belakang yang memampukannya jalan maju dan atret (mundur) dengan kecepatan yang sama! Kubah yang dapat diputar penuh dilengkapi dengan senapan mesin MG 34 7,92mm serta meriam kecil 20mm. 

Pada awalnya, sebuah KwK30 ikut dipasang juga, tapi kemudian digantikan oleh KwK38 bulan Juli 1942. Hal ini menambah rate tembakannya dari 280 peluru menjadi 450 peluru/menit, yang dapat dipakai membabat pasukan infanteri lawan sampai jarak 1200 meter dan juga kendaraan tempur sampai jarak 600-1000 meter.

Share:

Support