Zaman sekarang, kita sering banget terpapar sama budaya flexing. Entah itu pamer mobil mewah, pengawalan ketat, atau sekadar gaya hidup yang seolah-olah berteriak, “Eh, gue orang penting, lho!” Tapi, kalau kita mau flashback sedikit ke sejarah bangsa ini, ada satu sosok yang vibes-nya benar-benar beda. Beliau adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Kalau mau dibilang influencer sejati, beliau adalah juaranya, tapi bukan lewat konten medsos, melainkan lewat attitude-nya yang super humble.
Ada satu cerita legendaris yang terjadi sekitar Oktober 1950. Waktu itu, Sri Sultan HB IX bukan cuma seorang Raja Yogyakarta, tapi juga menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri. Bayangkan, posisinya lagi di puncak banget. Namun, alih-alih minta iring-iringan moge atau pengawalan sirine yang bikin macet jalanan, beliau malah memilih gaya yang sangat lowkey.
Ceritanya, beliau bareng Menteri Pertahanan ad interim, Abdul Halim, mau meninjau renovasi Istana Bogor. Alih-alih pakai sopir pribadi, mereka berdua malah memutuskan buat road trip berdua saja. Mereka gantian nyetir, lho! Pas berangkat, Pak Abdul Halim yang pegang kemudi, sementara Sultan duduk santai di sebelahnya. Benar-benar definisi no-fuss leadership.
Masalah mulai muncul pas mereka sampai di Istana Bogor. Mungkin karena terlalu asyik ngobrol atau memang kelewat santai, mobil yang mereka kendarai langsung saja masuk ke kompleks istana tanpa berhenti dulu di pos penjagaan. Nah, lho! Para penjaga istana yang lagi bertugas langsung auto-panic. Mereka merasa ada penyusup yang "nyelonong" begitu saja.
Nggak pakai lama, pasukan penjaga langsung mengejar dan mencegat mobil itu. Bahkan, suasana sempat tegang karena mereka menodongkan senjata! Komandan Polisi Militer yang bertugas langsung membentak Pak Abdul Halim yang lagi nyetir, “Kenapa masuk saja tanpa berhenti? Apa tidak lihat penjagaan?”
Lucunya, Pak Abdul Halim bukannya gemetar atau ketakutan, beliau malah menjawab dengan nada bercanda yang sangat chill. “Saya hanya sopir, dan karena tidak ada orang yang menyuruh berhenti, saya terus saja. Lagipula Tuan yang di sebelah saya ini tidak menyuruh saya berhenti,” katanya sambil melirik Sultan. Sementara itu, Sri Sultan cuma duduk diam membatu, mungkin dalam hati lagi menahan tawa melihat situasi absurd itu.
Baru deh, pas para prajurit mendekat dan mengintip siapa sebenarnya orang di dalam mobil itu, mereka langsung speechless. Pemimpin prajuritnya menyadari wajah yang sangat familier itu dan bertanya dengan nada gemetar, “Apakah Bapak Paduka Sri Sultan?”
Sultan cuma mengangguk pelan sambil tersenyum manis. Begitu sadar kalau mereka baru saja menodongkan senjata ke Wakil Perdana Menteri sekaligus Raja, para prajurit langsung auto-standby dan memberi hormat seformal mungkin. Bayangkan gimana rasanya, jantung mereka pasti mau copot karena takut bakal dihukum berat.
Tapi, di sinilah letak kerennya Sri Sultan. Alih-alih marah atau pakai kartu “Lo nggak tahu gue siapa?”, beliau malah turun dari mobil seolah nggak ada kejadian apa-apa. Beliau dan Pak Abdul Halim justru menyapa para penjaga dengan sangat ramah dan murah senyum. Nggak ada dendam, nggak ada laporan ke atasan, apalagi mutasi jabatan buat si penjaga. Beliau paham kalau mereka cuma menjalankan tugas.
Dari kisah ini, kita sebagai anak muda bisa belajar banyak hal tentang yang namanya power. Ternyata, pemimpin yang benar-benar kuat itu nggak perlu divalidasi lewat pengawalan super ketat atau kemarahan yang meluap-luap. True authority is silent. Sri Sultan HB IX membuktikan bahwa kita bisa tetap berwibawa meskipun tanpa atribut kemewahan.
Gaya "merakyat" beliau ini adalah sebuah reminder keras buat kita semua. Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu tampil "lebih" dari orang lain, kadang yang paling berkesan justru adalah kesederhanaan dan kemanusiaan kita. Beliau mengajarkan kalau jabatan itu cuma titipan, tapi rasa hormat itu didapatkan lewat cara kita memperlakukan orang lain, bahkan ke mereka yang pangkatnya jauh di bawah kita.
Jadi, kalau nanti kamu merasa sudah "jadi orang" atau sukses di karier, ingat-ingat lagi cerita ini. Jangan sampai ego kita lebih besar daripada kontribusi kita. Jadilah seperti Sri Sultan HB IX: tetap cool, tetap humble, dan yang paling penting, jangan baperan kalau ada yang nggak mengenali siapa kamu. Karena pada akhirnya, kualitas diri seseorang nggak ditentukan dari seberapa banyak orang yang takut sama dia, tapi seberapa banyak orang yang merasa nyaman berada di dekatnya. Stay humble, stay real.










