Berita Militer

www.bacaanmiliter.blogspot.com

Berita Militer

www.bacaanmiliter.blogspot.com

Info Militer

www.bacaanmiliter.blogspot.com

Dunia Militer

www.bacaanmiliter.blogspot.com

Cerita Militer

www.bacaanmiliter.blogspot.com

Selasa, 02 Juli 2019

Polikarpov R-5

POLIKARPOV R-5

 

Polikarpov R-5
Polikarpov R-5 adalah pesawat intai dan light bomber buatan Uni Soviet yang terbang pertama kali pada tahun 1928. Walaupun masih menggunakan desain biplane dengan sebagian besar badan pesawat terbuat terbuat dari kayu dan kain, Polikarpov R-5 banyak digunakan dalam Perang Dunia II dengan hasil yang tidak mengecewakan.

Pesawat ini pertama kali digunakan dalam pertempuran ketika digunakan oleh sukarelawan pihak Republik dalam Perang Saudara Spanyol tahun 1937. Kemudian pesawat ini digunakan dalam perang perbatasan Uni Soviet dengan Jepang di tahun 1939 dan selanjutnya ikut mendukung serbuan Uni Soviet ke Polandia. R-5 juga terlibat dalam perang musim dingin tahun 1939-1940 ketika Uni Soviet melakukan invasi ke Finlandia. Sejumlah pesawat ini kemudian berhasil direbut oleh AU Finlandia dan digunakan oleh Finlandia sampai dengan tahun 1945.

Polikarpov R-5Polikarpov R-5 juga banyak digunakan dalam pertempuran melawan serbuan pasukan Jerman ke Uni Soviet, terutama untuk melakukan misi-misi pemboman di malam hari seperti yang dilakukan oleh skadron-skadron Polikarpov Po-2. Angkatan Udara Uni Soviet sendiri menghentikan operasional Polikarpov Po R-5 pada akhir tahun 1944, sementara varian sipil dari R-5 masih digunakan oleh maskapai penerbangan Aerofolt sampai Perang Dunia II berakhir.

Specifications :
Crew : 2
Length : 10.56 m
Wingspan : 15.50 m
Height : 3.25 m
Empty weight : 1,969 kg
Loaded weight : 3,247 kg
Powerplant : 1 x 680 hp Mikulin M-17B radial engine
Maximum speed : 228 km/h
Range : 800 km
Ceiling : 6,400 m
Armament : 2 x 7.62mm machine guns and up to 250 kg of bombs

Polikarpov R-5

Share:

Senin, 24 Juni 2019

Moeffreni Moe'min (seri 2)

Moeffreni Moe'min (seri 2)
Komandan yang Tak Terlupakan

Seiring berjaannya waktu, BKR Jakarta selanjutanya diubah menjadi TKR Resimen V Jakarta.  Moeffreni Moe’min selanjutnya diangkat menjadi  komandan Resimen V dengan pangkat Letnan Kolonel.  Sejak kedatangan tentara sekutu, kondisi di Jakarta sering terjadi bentrok antara rakyat dan/atau BKR dengan tentara NICA. Oleh krena itu, Berdasarkan kesepakatan pemerintah republik dengan sekutu, mulai 19 November 1945 Jakarta harus dijadikan kota diplomasi dengan garis demarkasi di Kali Cakung. Kondisi tersebut membuat Moe’min bersama pasukannya harus mengosongkan markas lamanya untuk berpindah markas ke daerah Cikampek. 

Disinilah kepiaiannya terbukti setelah berhasil membangun koordinasi yang kompak antara tentara dengan lasykar di front Jakarta Timur. Adapun kelompok pemuda dan laskar yang berada dalam koordinasi pasukan Moe’min antara lain: Laskar Matmuin Hasibuan di Marunda & Tanjung Priok, di Klender di bawah Haji Darip, di Babelan di bawah K.H. Noer Alie, Laskar Acoma di Cikarang & Tambun, banyak lagi.

Demi mengacaukan kedudukan Nica/ Belanda, Moeffreni beserta anak buahnya yang didukung oleh rakyat melakukan penghadangan atau penyerangan pos2 tentara NICA di Jakarta. Tak pelak kondisi tersebut menjadikan Jakarta sebagai sebuah front pertempuran yang memakan banyak korban. Salah satu pertempuran yang terjadi adalah peristiwa pada  tanggal 17 Oktober 1945 saat serdadu NICA membakar ratusan rumah di desa Cibening dan Cakun. 

Pada saat itu, Moeffreni yang masih berusia 24 tahun dikenal sebagai seorang perwira yang tegas, ak mengenal sikap kompromi dan tawar menawar. Beberapa tokoh yang ada di pemerintah pusat bahkan sempat memberinya julukan sebagai seorang yang memiliki kepala batu. Salah satu peristiwa yang banyak diingat oleh masyarakat pada saat itu ketika tentara sekutu yang dibonceng Nica melakukan pengawalan kereta api berisi Amunisi dan logistik untuk dibawa ke Bandung.  

Begitu berada di daerah kekuasaan Moeffreni tepatnya di daerah Dawuan, kereta api tersebut dicegat dan diserang yang mengakibatkan banyak pasukan sekutu/ Nica menjadi korban, bahkan beberapa tentara tersebut ada yang ditawan. Selain itu barang-barang yang berada dalam jereta juga dirampas para pejuang. 

Mendengar peristiwa itu, pimpinan tentara Sekutu yang berada di Jakarta marah-marah dan menghubungi para pejabat Indonesia dan memberi ultimatum untuk membebaskan tawanan dan mengembalikan barang rampasan perang.  Bahkan pada saat itu,  Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin sampai menelepon dan meminta Moeffreni agar mengembalikan  hasil rampasan dalam pertempuran di Dawuan kepada Inggris.

“Maaf Pak, saya tidak dapat melaksanakan perintah itu,” ujar Moeffreni

“Tapi kalau tidak dilakukan, Cikampek akan dibom oleh mereka,” tukas Amir.

“Saya sudah memperhitungkannya, Pak. Di sini tiap hari telah dibom oleh mereka. bahkan hingga Tambun,” ungkap Moeffreni.

Amir Sjarifoeddin pun tak bisa berkata-kata apa lagi 

(buku Jakarta-Karawang-Bekasi dalam Gejolak Revolusi karya Dien Majid dan Darmiati)

Letkol Moeffreni kemudian dipercaya mengomandani Resimen XII Cirebon, menggantikan Kolonel Soesalit Djojohadiningrat (putra RA Kartini). Salah satu tugas beratnya adalah mengamankan berlangsung perundingan antara pihak Indonesia dengan Belanda di Linggajati dari 11-15 November 1946. Pada tanggal 21 Juni 1946, Moeffreni melepas masa lajangnya di usia 26 tahun di Cirebon  dengan menikahi Elly Koesmaningsih. Elly sendiri adalah seorang putri Wedana Cirebon yang bernama Moehammad Sidik

Pada bulan April 1947, Kolonel A.H. Nasution  atasannya menugaskan Moeffreni untuk menjabat sebagai Direktur Latihan Pendidikan Perwira Divisi Siliwangi di Ngamplang Garut. Namun, pada saat militer Belanda menyerang Garut pada Juli 1947, Moeffreni tertangkap dan menjadi tawanan perang di pulau Nusakambangan.

Setelah tiga tahun menjadi tahanan perang Belanda, akhirnya Moeffreni dibebaskan di awal tahun 1950, dalam rangka implementasi pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) 27 Desember 1949. Setelah pembebasannya, dia langsung ditugaskan sebagai kepala staf Resimen Bogor. Selanjutnya beliau di angkat sebagai “plt” Gubernur Militer di Bandung dan kemudian di tarik ke Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) sebagai Asisten Subsistensi/ Wakil Asisten V Kepala Staf Teritorial TNI AD.

MoeffreniTahun 1957, dia kemudian mengajukan pengunduran diri dari dunia militer dengan alasan kesehatan. Pasca pengunduran dirinya, selanjutnya aktif dalam dunia politik dan pernah menduduki jabatan sebagai wakil rakyat. Tercatat dia pernah terpilih menjadi anggota DPRD DKI Jakarta dan berlanjut hingga akhirnya menjadi anggota MPR RI  dari Fraksi ABRI. 

Moeffreni Moe’min
  meninggal di Rumah Sakit Pertamina Jakarta pada 27 Juni 1996 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta sesuai dengan wasiat terakhirnya. Demi mengingat jasa-jasanya saat ini tokoh masyarakat dan pemerintah daerah DKI Jakarta sedang mengajukan namanya untuk dijadikan sebagai Pahlawan Nasional. Sebuah gelar yang layak untuk disematkan terhadap seorang pejuang yang benar-benar berpengaruh dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI.
Share:

Senin, 17 Juni 2019

Moeffreni Moe'min

Moeffreni Moe'min
Pejuang Pemberani dari Betawi


Moeffreni Moe'min
Letnan Kolonel Moeffreni Moe'min(Kiri)
Moeffreni Moe’min  lahir tanggal 12 Februari  1921 di Rangkasbitung merupakan anak dari Moehammad Moe’min, seorang mantan wedana asli Betawi kelahiran Kwitang. Sejak remaja Moeffreni aktif dalam organisasi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), yang merupakan cikal bakal gerakan Pramuka di Indonesia, sebagai hoofd Redactur majalah pandu Jakarta. Dari pekerjaannya itu Moeffreni mengetahui pembentukan Seinen Dojo (Barisan Pemuda) di zaman Jepang. Ikutlah Moeffreni pelatihan khusus untuk pemuda terpelajar itu di Tangerang.

 Moeffreni merupakan angkatan pertama di Seinen Dojo (Balai Pendidikan Pemuda) Tangerang pada 1943. Bersama dengan para pemuda yang kelak menjadi  para tokoh militer Indonesia seperti Supriyadi, Daan Mogot, Jono Suweno dan Kemal Idris dia dilatih selama enam bulan. 

Selanjutnya, pemuda yang dikenal tegas dan pemberani ini melanjutkan pendidikan Perwira PETA (Pembela Tanah Air) di Boei Gyugun Kanbu Rensentai Bogor. Lepas Boei Gyugun Kanbu Resentai, dia kemudian didapuk melatih calon instruktur PETA. Di sinilah dia berkenalan dengan pemuda Soeharto yang merupakan salah satu peserta pendidikan tersebut. Selesai engikuti pelatihan tersebut, selanjutnya dia diberi tugas untuk  Moeffreni mengikuti pendidikan Renseitai di Cimahi dan Redentai (intelejen) di Magelang. Dalam pelatihan intelijen di Magelang itu Moeffreni mengikat persahabatan dengan Sarwo Edhie, Zulkifli Lubis, dan Ahmad Yani

Sebagai pemuda Betawi ssli, Moeffreni pun banyak memiliki kenalan dan  jaringan dengan para jagoan dan jawara Jakarta seperti Haji Darip, Panji dan tokoh-tokoh terkemuka lainnya. Kondisi tersebut yang kemudian memudahkan langkahnya ketika membentuk BKR (Badan Keamanan Rakyat) Jakarta bersama kawan-kawannya yang tergabung daalam Pemuda Menteng 31  dan Prapatan 10. BKR Jakarta tersebut memiliki markas di Jalan Cilacap dan menjadikan kawasan di sekitarnya seperti sekitar Tanah Abang, Dukuh Sawah sekarang Jalan M.H. Thamrin, Karet Kubur dan Salemba sebagai daerah teritorialnya. 

Sebagai Panglima BKR Jakarta yang pernah mengenyam pendidikan perwira, Moeffreni membagi-bagi kesatuan-kesatuannya berdasarkan sektor, seperti Jakarta Pusat (dipimpin Sadikin dan Soedarsono, Jakarta Utara (Martadinata dan M Hasibuan), Jakarta Selatan, Jakarta Timur (Sambas Atmadinata dan Sanusi Wirasuminta) dan Jakarta Barat. Selain itu, dibentuk pula satuan-satuan kecil di tiap kewedanan.

Letnan Kolonel Moeffreni Moe'min
Moeffreni Moe'min (tanda merah) ketika mengawal Bung Karno
Ketika berlangsung rapat besar di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) yang sekarang berubah menjadi Lapangan Monas,  Moefreni yang saat itu menjadi Ketua Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jakarta  diberi tugas untuk mengawal Soekarno bersama ajudan Presiden, perwira Polisi Istimewa Mangil Martowidjojo. Moeffreni mengawal Bung Karno sejak dari saat dijemput di mobil, berjalan ke podium untuk pidato singkat, sampai kembali lagi ke mobil.  Untuk menjaga keselamatan Presiden RI yang pertama tersebut, dia menaruh dua buah dinamit di jas dan menyelipkan sebuah pistol di pinggangnya. Dia sendiri yang turun tangan untuk pasang badan demi menjaga Bung Karno, Bung Hatta, serta anggota kabinet yang dijemput oleh Soebijanto Djojohadikoesoemo (selama rapat Ikada)
Dan berdasarkan penelusuran terhadap beberapa sejarah, ternyata peranan Moeffreni Moe’min cukup vital dalam rapat yang dihadiri 250.000 orang tersebut karena berposisi sebagai ketua panitia. Berbagai upaya dia lakukan demi kelangsungan dan keberhasilan rapat tersebut. Bahkan sebelum rapat di mulai, dia harus  mendatangi para  perwira tinggi Jepang di kantor Guiseikanbu untuk agar jangan terjadi pertumpahan darah. 

Dan setelah adanya rapat akbar yang terbilang sukses tersebut, karir  Moeffreni Moe’min  di bidang militer mulai diperhitungkan.

Bersambung ke bagian 2

Share:

Selasa, 11 Juni 2019

SD.KF.Z231 Panser Legendaris Jerman

 SD.KF.Z231 
Panser Legendaris Jerman
 
 
 
Panser SD.KF.Z231
Panser yang dibuat dengan menggunakan sasis truk taktis 6-roda sebagai dasarnya ini dobuat oleh Wa Prüf 6 - Panzer- und Motorisierung sabteilung (Kantor Desain Otomotif Waffenamt). Kantor desain ini sendiri mendapat pesanan dari  Reichswehr (Angkatan Bersenjata Jerman sebelum Wehrmacht) untuk mulai membangun kendaraan pengintai lapis baja .

Setelah melalui berbagai riset dan uji coba, akhirnya jadilah "keluarga" kendaraan pengintai berat Sd.Kfz.231, Sd.Kfz.232, dan Sd.Kfz.263. Kendaraan produksi pertengahan - seperti halnya Sd.Kfz.231 di atas – ini dilengkapi dengan senapan mesin yang dipasang di sebelah kanan kanon utama. 

Kendaraan ini juga mempunyai rol penggulung kecil di bagian depan bawah sebagai pencegah manakala dia tersangkut tak bisa bergerak ketika masuk ke parit - sama fungsinya seperti penggulung di M3A1 milik Amerika Serikat. Di bagian tengah bawah juga dipasang alat rol yang sama untuk mencegah tersangkut di puncak tanjakan saat menempuh jalur off-road.

Rangka berbentuk bendera di bagian spatbor kendaraan yang berada di depan berguna sebagai dudukan panji warna. Panji warna semacam ini biasanya dipakai saat berlangsungnya latihan perang-perangan.Sd.Kfz.231 didesain untuk mampu menangkal peluru dibawah kaliber 8mm sampai jarak 30m, sementara mesin di bagian samping dan belakangnya dilindungi lapisan baja sampai setebal 10mm (bagian depan, samping dan belakang lainnya berketebalan 8mm, sementara atap dan dek belakang 5mm). 

Panser SD.KF.Z231 JermanDisini kita melihat kendaraan Schwerer Panzerspähwagen produksi akhir, dimana lampu penanda beloknya telah dipindahkan ke bagian fender dan rel pelindungnya ditiadakan. Sd.Kfz.231 di atas dilengkapi dengan penangkal asap yang mulai ditambahkan dari sejak awal tahun 1942. Seri Sd.Kfz.231 mempunyai awak 4 orang, kecepatan sampai 85km/jam, serta setir unik di depan dan belakang yang memampukannya jalan maju dan atret (mundur) dengan kecepatan yang sama! Kubah yang dapat diputar penuh dilengkapi dengan senapan mesin MG 34 7,92mm serta meriam kecil 20mm. 

Pada awalnya, sebuah KwK30 ikut dipasang juga, tapi kemudian digantikan oleh KwK38 bulan Juli 1942. Hal ini menambah rate tembakannya dari 280 peluru menjadi 450 peluru/menit, yang dapat dipakai membabat pasukan infanteri lawan sampai jarak 1200 meter dan juga kendaraan tempur sampai jarak 600-1000 meter.

Share:

Senin, 27 Mei 2019

Super Tucano

 EMB 314 Super Tucano



Niatan Indonesia untuk menjadi produsen pesawat tempur rupanya sudah didahului oleh Brazil. Sama-sama negara yang mendapat julukan negara dunia ketiga. Bahkan pada tahun 2012 kemarin, Indonesia sudah membeli pesawat dari negeri samba tersebut. 

Pesawat tempur yang diproduksi di Brazil itu bernama MB 314 / A-29 Super Tucano. Sebuah  pesawat tempur ringan bermesin Pratt & Whitney Canada PT6A-68C Turbo Propeller ini memiliki sayap yang rendah (low wing). Namun demikian, pesawat ini memiliki kemampuan sebagai COIN (Counter Insurgency) atau pesawat serang antigerilya.oleh karena itu pesawat ini cocok untuk mendukung misi-misi pengintaian, close air support, dan penumpasan pemberontak. EMB-314 Super Tucano terdiri dari dua versi, tipe A-29ALX (kursi tunggal) dan AT-29B (kursi ganda)

Adalah Embraer, sebuah pabrik pesawat di Brazil yang memiliki lisensi untuk memproduksi pesawat yang ditakuti kartel narkoba di negeri yang berada di Amerika Selatan tersebut. Selain Brazil sendiri,Super Tucano juga di miliki oleh negara-negara lain di sekitarnya seperti AU Kolombia, Chili, Republik Dominika dan Ekuador.

Pesawat ini laris manis di benua “Amerika Coret” karena memang diperuntukkan untuk kondisi lingkungan di Amazon, Brazil. ALX diciptakan untuk mampu beroperasi disegala kondisi cuaca, siang dan malam, misi dari pangkalan terpencil dan tak beraspal tanah landasan pacu dengan sedikit dukungan. Dan saat ini, banyak negara-negara di Asia yang sudah mulai menggunakannya.

Selain sebagai pesawat latih tingkat dasar dan lanjutan, Super Tucano juga dapat dioperasikan sebagai pesawat patroli perbatasan dan counter-insurgency operations (operasi penumpasan pemberontakan). Pesawat sanggup bermanuver hingga +7g dan -3.5g. Sebagai perbandingan, jet tempur F-16 dan Sukhoi Su-27/Su-30 sanggup bermanuver hingga 9g. Semakin besar gaya g (gravitasi) menandakan tingkat manufer pesawat yang bersangkutan cukup tinggi, dan sangat ideal untuk bertarung secara dog fight. Level 7g di EMB-314 Super Tucano sebanding dengan F-5E Tiger, terbilang cukup lincah dan memberikan tingkat survivability cukup tinggi.

Ukurannya yang kecil sanggup mereduksi sinyal radar dan visual, dikombinasi dengan kecepatan yang tinggi dan lincah dalam bermanuver memberikan tingkat survivability cukup tinggi. Tingkat keamanannya pun bertambahan berkat pelindung baja disekitar kokpit dan critical systems redundancy. Untuk keselamatan, pilot dilengkapi kursi lontar Martin Baker dengan pola zero-zero

Sebagaimana jenis pesawat ringan yang lain,  pesawat ini bisa digunakan  untuk mengantisipasi taktik perang gerilya dan cocok untuk melakukan serangan udara-darat. Menurut sumber TNI AU yang sudah menggunakannya, pesawat ini memiliki Service life 12.000 hingga 18.000 jam, dapat dioperasikan malam hari, bahkan mampu take off dan landing pada landasan minimal 1500 meter.

Untuk persenjataan, pesawat ini dilengkapi oleh SMB (senapan mesin berat) kaliber 12,7mm jenis FN Herstal M3P yang ditempatkan di setiap sayap. Selain itu, terdapat juga 5 buah cantelan dengan komposisi masing-masing 2 buah di sayap kiri dan kanan dan 1 buah di badan pesawat dengan beban total 1550 kg. Semua cantelan bisa dipasang bom sejenis Mk 81 dan Mk 82, peluncur roket, dan bom berpemandu laser sekelas Maverick.
EMB-314 Super Tucano juga dibekali sistem FLIR (Forward Looking Infrared), mengadopsi tipe StarSAFIRE III yang ditempatkan di bawah bodi pesawat. Sistem ini memungkinkan awak membidik sasaran, navigasi, dan identifikasi sehingga bisa melakukan pengawasan dan penyerangan saat siang dan malam hari dan dalam kondisi cuaca apapun.

Untuk kelengkapan navigasi, Super Tucano juga dilengkapi  dengan INS (Inertial Navigation and Attack System), GPS (Global Positioning System), Laser Rng Gyro, Radar Altimeter, dan Traffic Allerting and Collision Avoidance System (TCAS) yang dapat memberi petunjuk secara tepat dan akurat. Juga terdapat anti-interception and jamming sinyal radio V/UHF dan juga fuel alarms

Spesifikasi Super Tucano:
- Panjang badan: 11,38 m
- Rentang sayap: 11,14 m
- Tinggi: 3,97 m
- Area sayap: 19,4 m² (209 sq ft)
- Berat kosong: 3.200 kg
- Berat maksimum saat lepas landas: 5.400 kg
- Mesin: 1x Pratt & Whitney Canada PT6A
- Kapasitas bahan bakar: 695 liter
- Kecepatan jelajah: 530km/jam
- Kecepatan maksimum: 590 km/jam
- Jangkauan terbang: 2.855 km
- Langit-langit batas: 10.668 m
- Kemampuan menanjak: 24 meter/detik



Share:

Selasa, 09 April 2019

Heroisme Kapten Soedibjo, Pahlawan dari Tegal

Heroisme Kapten Soedibjo, Pahlawan dari Tegal
 

Tentara BelandaKapten Soedibjo yang lahir pada tanggal 10 Januari 1901 di Jawa Timur merupakan salah satu Pejuang Republik Indonesia yang tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat. Pada Tahun 1947 Kapten Soedibyo bersama pasukannya diberi tugas oleh Letkol Soediarto selaku induk pasukan untk melakukan pengamanan di sektor Tegal Barat utamanya kawasan Tumon yang saat ini masuk dalam wilayah Kecamatan Tegal Selatan. 

Setelah melakukan Agresi Militer I belandan bertindak brutal dengan menduduki berbagai kota yang sebelumnya masuk dalam wilayah Republik Indonesia. Pada tanggal 7 Oktober, giliran Kota Tegal yang menjadi incaran Pasukan Belanda setelah mereka berhasil merebut Brebes. Ketika itu dengan kekuatan 11 tank dan 2 truk yang mengangkut 40 orang pasukan, tentara Belanda secara beriringan mulai memasuki Kota Tegal. 

Demi menghambat pergerakan pasukan Belanda, Letkol Soediarto bersama satu pleton   (120 orang) prajurit TKR melakukan penghadangan di daerah Tirus.  Kapten Soedibjo yang merupakan salah satu pucuk pimpinan TKR terlibat dalam upaya penghadangan tersebut. Tak pelak pertempuran sengit pun terjadi antar kedua pasukan selama 2 hari. Karena kalah persenjataan akhirnya Pasukan Republik terdesak dan menjadikan banyak korban gugur di pihaknya.  
 
Melihat banyak yang TKR gugur, akhirnya Letkol Soediarto memerintahkan kepada Kapten Soedibjo dan pasukannya untuk perang gerilya kota dengan menyebar ke beberapa perkampungan. Letkol Soediarto sendiri akhirnya melakukan gerilya kota ke sebelah timur dan selatan (sekarang dikenal dengan Dukuhturi).  

Keadaan pasukan TKR yang tercerai berai membuat tentara Belanda terus melakukan pengejaran. Akhirnya banyak TKR yang mengamankan diri dengan bersembunyi di kolam, kebun, dan hutan randu yang sekiranya tidak bisa dilacak pasukan Belanda sambil menyusun kekuatan. 

Saat itu, bersama 10 orang pasukannya, Kapten Soedibjo bersembunyi di hutan randu Dukuh Trukkan (sekarang Kelurahan Kalinyamat Kulon). Selama dua hari, pasukan Kapten Soedibjo bersembunyi dengan bantuan makanan dan minuman dari warga. Di hari ke tiga, karena merasa keadaan sudah mulai aman Sang Kapten ingin mengecek keadaan yang sebenarnya dengan menyamar sebagai warga sipil. 

Dengan jiwa kstaria, Kapten Soedibjo keluar dari tempat persembunyian di Dukuh Trukkan untuk mengecek keadaan. Kapten Soedibjo tidak ingin terjadi sesuatu dengan pasukanya yang berjumlah sembilan orang. Sebab, Kapten Soedibjo merasa bertanggung jawab atas pasukanya yang masih hidup dan yang telah gugur. 

Namun, malang tak bisa ditolak. Saat keluar dari persembunyiannya tanpa pengawalan, sekitar 100 meter dari tempat persembunyian di area persawahan Dukuh Trukan  Kalinyamat Kulon  Kecamatan Margadana, Kapten Soedibjo tertembak pasukan Belanda yang sengaja bersembunyi untuk menumpas pasukan TKR. Kapten Soedibjo pun gugur pada 10 Oktober 1947 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Pura Kusuma Negara Kota Tegal.  Beberapa pasukan Kapten Soedibjo yang masih hidup akhirnya bergabung dengan pasukan Letkol Soediarto.

Karena komandan TKR telah tertembak, pasukan Belanda merasa senang dan menang. Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan menuju ke Jogjakarta untuk menguasai Ibu Kota Negara yang saat itu sudah berpindah. Namun, saat menuju Jogjakarta melalui Jalan Daendels (sekarang Jalur Pantura), ada tiga tank milik Belanda yang masih tertinggal di Tegal 

Demi melihat hal itu, Letkol Soediarto akhirnya memerintahkan penyerangan terhadap pasukan Belanda yang tertinggal. Akibat serangan mendadak tersebut, 23 pasukan Belanda tewas. 

Dalam pertempuran sengit di Tirus tersebut, terdapat 50-80 pasukan TKR yang gugur, termasuk Kapten Soedibjo. Demi mengingat jasa beliau, akhirnya namanya diabadikan menjadi nama jalan di Kota Tegal, tepatnya  di Tirus yang masuk dalam wilayah Kelurahan Randugunting.

Nama Letkol Soediarto yang gugur di Pulau Hitu saat menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada 1950 akhirnya juga diabadikan menjadi nama jalan yang juga terdapat di kota Tegal yaitu berada di dekat Stasiun Kereta Api yang masuk di Kelurahan Panggung.

Sumber: www.radartegal.com



Share:

Selasa, 05 Maret 2019

Ketika Sri Sultan HB IX ditodong Senjata dan dimarahi Penjaga Istana

Ketika Sri Sultan HB IX ditodong Senjata dan dimarahi Penjaga Istana


Sri Sultan HB IX
Sri Sultan HB IX merupakan salah satu contoh pejabat negara yang egaliter, sebisa mungkin tidak menunjukkan sifatnya sebagai pejabat bahkan raja ketika berhubungan dengan orang lain. Banyak kisah beliau yang bisa dijadikan sebagai pembelajaran, meskipun kadang juga kelihatan konyol ataupun lucu jika di ingat-ingat. Salah satunya adalah kisah Sri Sultan HB IX ketika dimarahi dan ditodong senjata oleh Pasukan Pengawal Istana Bogor ketika berkunjung ke tempat tersebut. Berikut ini kisahnya sebagaimana diceritakan oleh situs berita www.merdeka.com

Ketika itu,  Bulan Oktober 1950 Sri Sultan HB IX yang   diberi amanah untuk memegang jabatan sebagai  wakil perdana menteri di Kabinet Natsir bersama A Halim yang menjabat Menteri Pertahanan ad interim, bermaksud menuju Istana Bogor untuk meninjau proses renovasi.

Tanpa menggunakan pengawalan, kedua pejabat negara tersebut datang ke Bogor hanya berdua saja. Tanpa menggunakan sopir, beliau berdua menyopir mobil secara bergantian. Saat berangkat, yang memegang kemudi adalah A Halim, sedangkan Sri Sultan HB IX duduk disebelahnya.

Sesampainya di Istana Bogor, A Halim langsung masuk ke kompleks istana Bogor tanpa berhenti dan melapor ke penjaga istana.  Tak pelak keberadaan mobil yang menyelonong ke istana membuat para penjaga kelimpungan dan mengejar mobil tersebut. Akhirnya para penjaga yang berasal dari Polisi Militer berhasil memberhentikan mobil keduanya sambil menodongkan senjata.

"Hei, apa-apaan ini! Stop segera!" teriak para penjaga Istana.

Komandan Polisi Militer itu menghampiri Halim. Dia membentak menteri pertahanan itu dengan mata melotot. Rupanya para penjaga tidak mengenal dan menyadari bahwa kedua orang yang mereka berhentikan tersebut adalah pejabat negara.

"Kenapa masuk saja tanpa berhenti lebih dulu? Apa tidak lihat penjagaan?" bentaknya.

Mendengar bentakan tersebut, Halim dengan tenang mengeles,
 "Saya hanya sopir, dan karena tidak ada orang yang menyuruh berhenti saya terus saja. Lagipula Tuan yang berada di sebelah saya ini tidak menyuruh saya berhenti," kata Halim sambil melirik Sultan yang hanya duduk mematung.


Akhirnya para prajurit penjaga mengerubungi mobil  sambil mencoba mengenali siapa orang di samping sopir tersebut. Setelah tersadar jika yang berada dalam mobil adalah Sri Sultan mereka pun bertanya,

"Apakah Bapak Paduka Sri Sultan?" tanya pemimpin mereka.

Sultan mengangguk. Para tentara itu langsung terperanjat. Siapa yang tidak gentar mengingat Sultan HB IX dan perjuangannya mempertahankan Yogyakarta selama agresi militer Belanda.

"Siaaap! Beri Hormaaat!" teriak sang komandan sigap. Perintah ini lalu spontan diikuti seluruh anak buahnya.

Sultan sendiri tidak marah atas penodongan dan bentakan para penjaga. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa, Beliau segera mengajak A Ahlim untuk turun dan melakukan peninjauan. Bahkan sempat makan duku di pinggir kali Ciliwung yang membelah Istana.
Setelah melakukan kunjungan selama dua jam, akhirnya kedua pejabat tersebut meninggalkan istana untuk pulang.  Dan tidak mau mengalami kesalahan kedua kalinya, Pemimpin Penjaga Istana mengerahkan satu kompi pasukannya untuk berbaris di pinggir gerbang dan memberi hormat ketika mobil ke dua pajabat negara tersebut lewat di depan mereka.
Share:

Support